Banyak Anak Banyak Rejeki

Yup itu pepatah jaman dahulu, apakah masih berlaku hingga sekarang?

Entahlah.
*journal ini terinspirasi dari (kalo gak salah) kompas.com yang membahas anak ke 4 dari victoria bechkam*
Di Inggris yang konon katanya negara muahal (kata buku Cheer UK karangan mba Diyah)
jumlah anak yang dipunyai suatu keluarga menunjukkan tingkatan status ekonomi sosialnya disana. Karena kebanyakan keluarga membatasi anak yang dipunyainya.
1 saja cukup buat mereka, karena kebanyakan memikirkan pendidikan dari anak-anaknya kelak, blum lagi kebutuhan anak tuk hidup yang mahal.
So , saat di Victoria mengandung anak ke 4 ini, mereka cukup tahu akan status sosial ekonomi si Victoria yang high class. Yang mampu membesarkan anak-anaknya kelak.
So bener juga siy banyak anak banyak rejeki, namun bukan anaknya yang bawa rejeki, tp ortunya yang dah punya banyak rejeki.
Hmmm knapa aku bahas ini? Karena aku mau membandingkan dengan di Indonesia.
Masyarakatnya saat ini, aku lihat sudah mulai banyak yang membatasi jumlah anak, namun banyak pulak yang tidak.
Masih banyak yang terpengaruh dengan kalimat banyak anak banyak rejeki, nanti masing-masing anak punya rejekinya masing-masing.
Hmmm benarkan? Memang benar rejeki gak ada yang tahu, tapi kalau tak ada usaha yang besar dari sang ortu, rejeki itu akan susah didapat.
Aku pribadi, ini aku pribadi ya… sangat berat mau nambah anak lagi.
Knapa? Aku mikir, bagaimana biayain sekolahnya? sedangkan sekarang harga pendidikan sangat mahal banget.
Maybe aku pilih-pilih sekolah, mau yang swasta dan mahal.
But, ini dikarenakan aku sendiri disekolahkan sama ortu di sebuah sekolahan yang Top di kota kecil Cirebon. Masa anakku mau disekolahin yang biasa? bagaimana nanti bersaingnya kelak. Memang tak boleh kuatir berlebihan, namun tohk bisa antisipasi.
Balik ke masyarakat, aku lihat siy, sekarang yang pendidikan tinggi dan ekonomi tinggi, rata-rata sudah banyak yang membatasi jumlah anaknya karena kuatir akan pendidikan dan kehidupan anak-anaknya.Namun.. bagaimana dengan yang masyarakat kelas menengah kebawah? Atau yang kurang pendidikannya? (sang ortunya?)
Masih banyak yang punya anak banyak tanpa mikir bagaimana dengan anak-anak mereka kelak. Alhasil, anak-anak mereka masih banyak yang tidak bisa mengenyam pendidikan sampai tingkat tinggi. Bagaimana mencari kerja? sedangkan persaingan makin ketat dan lulusan perguruan tinggi saja susah cari kerja.
well, kalau mau mikir lebih jauh lagi… bagaimana negara bisa maju kalau masih banyak masyarakatnya yang berpendidikan rendah? Berpikir kurang kritis atau bahkan tidak kritis.
Opss sepertinya aku sudah melenceng dari topikku sendiri.
Jadi, apakah banyak anak banyak rejeki masih berlaku hingga sekarang?
Ataukah sudah seperti di Inggris, banyak anak menunjukkan status sosial ekonomi keluarga tersebut? Entahlah….
Aku pribadi, saat aku blum mampu biayain anak kedua, lebih baik aku nggak nambah dulu.
Kalau pun sampai dikasih , ya lain perkara, cuma aku berusaha tuk tidak sampai kebobolan dulu, karena tanggung jawabku terhadap anak besar. Aku mencintainya. dan bertanggung jawab tuk kehidupan mereka kelak.
I wanna the best for my child or my children
‘feb ^_^
>> Anak adalah titipanNya, tugas kita adalah menjaga mereka hingga mereka siap memegang dunia ditangan mereka<<
Advertisements

About BuPeb

Seorang BuPeb yang suka ngoceh, suka nulis, suka gambar, suka iseng, suka yang enak, suka yang ganteng, suka yang asik2
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s