Pelajaran Sebagai Orang Tua

Sejujurnya bingung mau mulai cerita darimana, karena begitu banyak kejadian yang ingin aku ceritakan.
Sejak aku cuti lahiran dan anak-anak pun mulai liburan sekolah, banyak kejadian yang bikin aku ngelus dada. Bukan disebabkan oleh nathan saja, tapi oleh kelakuan teman-temannya juga.

Kejadian terakhir, mungkin ini sebuah pembelajaran bagiku dan bagi orang tua lainnya. Apakah kita bisa mempercayai anak kita? Ataukan harus mendengarkan juga dari omongan orang lain? Atau bagaimana kita harus bersikap yang seharusnya saat mendengarkan komplain seseorang tentang anak kita?

Jadi begini, sebut saja nathan, si K dan si Ni. Mereka bertiga selalu bermain bersama. Saat ini posisiku adalah sebagai ortu nathan yang selalu berada dirumah dan melihat kelakukan mereka bertiga, sedangkan ortu si K dan si Ni ini bekerja layaknya kedua ortu yg saat ini selalu bekerja setiap harinya, dan anak-anak bersama mbanya.

Suatu waktu, mereka heboh seperti bermain, namun mereka berteriak ‘awas ketauan Om’. Ya aku pikir knapa. Tau-tau sorenya aku mendengar laporan bahwa skuter si K ini hilang. Kagetlah aku, apalagi aku tau harga skuter itu berkisar 500rb. Dan lebih kagetnya, skuter itu dalam posisi sedang dipinjam oleh si Ni.

Ya aku dan mama si K pun bertanya, hilangnya dimana, mereka pun menunjukkan sebuah rumah di gang sebelah, dan si Ni bilang diambil om dibawa masuk kerumah. Saat itu sudah malam, dan yang punya rumah ternyata sedang kerja shift malam. Mama K pun bingung, dan aku menyarankan tuk bilang ke mama si Ni juga, secara anaknya yg pinjem skuternya.
Akhirnya besoknya aku yang kesana sendirian untuk menanyakan perihal skuter itu, kagetlah saat aku mengetahui hal sebenarnya.

Aku pagi2 datang kerumah dimana skuter itu hilang, aku hanya bertemu dengan tukang yg sedang bekerja meng-cat rumah tersebut, karena yg punya rumah (Pak G) sedang tidur. Si tukang pun bercerita kalau anak-anak mengambil pisang goreng tanpa ijin. *tepok jidat* . Tapi si tukang menggambarkan bahwa yg ambil yang kurus-kurus, yang gemuk tidak ikutan.
Mulailah aku mengintrogasi anak-anak satu per satu, termasuk nathan.

Pertama kali yang aku tanyai adalah si Ni, si Ni ini ga ngaku kalau dia mengambil pisangnya, dia bilang yg ambil si K. OK lah. Berlanjut aku introgasi baik-baik si K. Si K ini akhirnya ngaku kalau dia mengambil pisang itu bersama-sama si Ni atas bujukan si Ni. Padahal dia dan Ni tahu kalau perbuatan itu disebut nyuri. *tepot jidat lagi*
Untungnya mereka berdua pun bilang kalau nathan tak terlibat dalam kejadian itu (syukurlah).

Setelah itu, agak siangan, akupun bertemu dengan si Pak G. Dia bilang skuter itu memang ada di dia, diambil karena anak-anak (si K dan si Ni) nyuri pisang goreng punya si tukang dan anak-anak tidak ngaku, dan dia bilang nathan tidak ikutan. Dan anak-anak berani ambil tanpa ijin, padahal ada dia di ruangan tersebut.

Kejadian-kejadian tersebut akhirnya aku sampaikan ke orang tua si K dan si Ni lewat cetting di bb. Entah bagaimana, aku menangkap reaksi ortu si K menyangkal anaknya brani berbuat begitu tanpa sebab. Mereka bilang pasti ada pemicunya. Padahal, biar apapun pemicunya jelas kelakuan anaknya sudah kelewatan.

Kalau ortu si Ni reaksinya agak cuek.

Reaksi mereka (ortu Ni dan ortu K) ini sering aku lihat tiap kali bilang sesuatu tentang kelakuan anak mereka. Dan ini sangat aku sayangkan. Si ortu K terlalu mempercayai omongan anaknya dan tidak begitu mempercayai omongan orang dewasa lain, dan ortu si Ni terlalu cuek sama omongan orang. Dan aku sebagai ortu nathan yg selalu main dengan anak-anak mereka sedikit kesal, karena sejujurnya aku takut anakku terbawa oleh kelakuan anak mereka dimana si Ni ini suka berbohong dan omongannya terlalu pintar (lebih ke lihai/licik) dan kalau si K ini lebih ke kasar dan bisa berbohong sama ortunya.

Well, karena kejadian ini, aku bersyukur anakku tidak terlibat dan masih baik walau nakal, nakalnya masih dalam tahap wajar dan nakalnya anak-anak.
Dan aku jadi tau sifatnya si K dan si Ni. Yah aku siy yang penting sudah berusaha bilangi si K dan si Ni (si Ni akhirnya ngaku jg kalau ambil pisangnya setelah ketangkap basah oleh pak G dan si K) untuk tidak ngulangi perbuatannya, dan minta maaf sama si pak G. Namanya anak-anak masih umur 5 tahunan, semoga masih bisa diarahkan ke perbuatan yg lebih baik dr kecil kalau ada yang jagain dan beri nasehat.
Tapi entahlah dengan orang tua nya. Aku masih bingung bagaimana caranya biar ortu mereka buka mata tentang kelakuan anak mereka dan mencoba mendidik anak mrk ke arah yg lebih baik.

Ini pelajaran buatku juga, sebaiknya tidak mempercayai anak seratus persen, namun harus crosscheck semua baik ke anak maupun ke orang-orang yg melaporkan kelakuan anakku ke aku. Yang pasti aku tidak mau dibohongi dan jangan jangan sampai dibohongi oleh anakku sendiri karena mama si K sampai saat terakhir setelah bertemu dengan pak G sepertinya masih percaya kalau anaknya tidak mungkin brani nyuri kalau tidak ada pemicunya. Padahal si anak sudah ngaku ke aku kalau mengambilnya karena inisiatif dari dirinya sendiri dan si Ni.

Btw, aku bangga sama nathan, dan aku dan bilang ke dia bahwa dia baik karena tidak ikut-ikutan ambil tuh pisang di dalam rumah orang.
Aku bukan ngebelain si anakku sendiri, namun ya pak G sendiri yg bilang kalau nathan tidak ikut-ikutan. Syukurlah.

Pelajaran lain dalam kejadian ini, bahwa sebagai ortu, jangan terlalu memanjakan anak dan percaya kebohongan anak, hal itu tidak akan mendidik anak menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, juga jangan menjadi ortu yang nyuekin anak, anak bisa jadi pintar berbohong.

*cerita sudah banyak diedit, karena panjang banget kalau diceritain semuanya. Dan mungkin ada cerita lain tentang bagaimana si K bawa-bawa pisau untuk main, another story yang bikin aku ngelus dada lagi*
*asli sampai aku nulis cerita ini, aku masih tak habis mikir, koq bisa-bisanya kejadian itu terjadi*

Advertisements

About BuPeb

Seorang BuPeb yang suka ngoceh, suka nulis, suka gambar, suka iseng, suka yang enak, suka yang ganteng, suka yang asik2
This entry was posted in Celotehan BuPeb, Parenting and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s